wanacala.blogspot.com
wnc

Rabu, 13 Februari 2008

KEBENARAN ESTITIS ATAU LOGIS

KEBENARAN ESTITIS ATAU LOGIS
Oleh :
Mudji Sutrisno
Budayawan

Ketika kehidupan dihayati sebagaimana adanya, dimuliakan dan dibuat lebih indah para pelakunya, saat itu pula ungkapan-ungkapan syukur entah dikidungkan pun dihayati dalam tindakan baik dan hormat pada kehidupan itu sendiri.
Ketika konsensus perkembangan peradaban dibagi dalam tahap lisan, tulisan, dan pasca tulisan (dunia maya). Inti dalam penjelasan tahap-tahap ini adalah direntangkannya sejarah peradaban dalam sebuah garis lurus penilaian atas waktu lalu, kini, dan mendatang.
Siklus ini adalah common sense atau local knowledge dipertegas statikanya dalam hitungan waktu bernama musim yang tetap pula. Siklus yang teratur itu di bahasakan sebagai mandala, roda hidup yang berputar silih berganti, roda pedati atau “ cakra manggilingan”
Ketika penghayatan diatas dijalani, yang di pakai terutama adalah intuisi dan rasa hati, ungkap-ungkap seni ritual yang memuliakan hidup yang selalu ditutup dengan keadaan harmoni setelah melalui situasi chaos.
Kehidupan sendiri yang dihayati intuitif. Orang menamainya sebagai intuitive truth.
Logical truch sudah langsung kita pahami bedanya dengan intuitive truth. Namun, sumber kebenarnnya tetap satu, yaitu penghayatan atas hidup dan kehidupan yang sama. Berbedanya, yang satu diungkapkan dalam bahasa intuisi, sedangkan yang lain diungkapkan dalam bahsa logika akan sehat.
Disini menarik untuk dicatat kajian ahli-ahli kebudayaan yang menatuh intuitive truth. Dalam mitos-mitos dan logical truch dalam logos.
Thomas Aquinas membagi hidup yang berharga ini dalam tiga dimensi. Pertama, dimensi keindahan, pulchrum yang dibahas dalam estetika. Kedua dimensi kebenaran logis venum, dikaji dalam filsafat ilmu pengetahuan . Ketiga dimensi kebaikan, bonum, dikaji dalam etika. Ukuran kebenarannya adalah ethical truch ynag di pakai untuk menentukan harkat kepribadian seseorang.
Dari paparan diatas, dua hal bisa kita catat. Pertama, bahasa rumusan untuk dimensi-dimensi kehidupan etis, estetis, dan logis. Kedua kehidupan sebagaimana adanya yang dirayakan dalam berbagai seni dan penhayatan local genius merupakan sumber-sumber untuk rumusan kebenaran. Bedanya, yang satu dirumuskan dan yang lain dihayati diam-diam.
Refleksi ini mengajak kita masuk ke “ kenyataan´antara yang terbahasakan dengan yang tidak terbahasakan. Ketika bahasa tulis terbatas membahasakan pengalaman hidup dalam bahasa-bahasa yang ada, maka sudah lebih dahulu sebelum pengaksaraan terbentang luas bahasa-bahasa simbol atau tanda.
Ketakterbahasakannya pengalaman menghayati hidup menemukan “ bahasa-bahasa ekspresinya” dalam lukisa, bahasa seni musik, film sampai kedunia bahasa virtual dalam citraan-citraan representasi kehidupan yang di persepsikan sebagai presentasi itu sendiri.
Bila kita mau merumuskan kebenaran, konsekuensinya adalah menaruh bingkai atau konteks konsensus pewacanannya dan perumusannya dalam dimensi-dimensi kehidupan itu.
Kejelian dan sikap terbuka untuk menghormati betapa kaya pelangi dimensi-dimensi kebenaran dari kehidupan merupakan perziarahan kita bersama dari yang mampu terbahasakan maupun yang tak terbahasakan. Politik dan kapitasl kekuasaanlah yang sekarang ini tangible maupun intangible menjadi bahaya monopoli penentuan “ Kebenaran “

Tidak ada komentar: